Masih memakai samping kumal Ninih duduk di kursi reyot yang berdenyit saat diduduki. Beban tubuhnya tak lagi mampu berkompromi dengan kursi kayu peninggalan suami tercinta yang telah lama berpulang.
“Braaaakkk!”
“Gedebum!”
Nasib kursi reyot kehilangan nyawa ditangan Ninih.
Sambil mendengus dan berusaha bangkit dengan susah payah, Ninih akhirnya berhasil berdiri meski sakit disekitar tulang ekor dan pinggang masih terasa.
“Bilang dong! Kalau kamu sudah nggak kuat?”
“Apa salahnya cuma ngomong gitu aja?”
“Mentang-mentang sudah tahun baru, kamu juga minta ganti baru?” Maki Ninih pada kursi kayu berwarna coklat kusam.
Meski Ninih memaki, air matanya mengalir jua. Kursi itu adalah kursi saksi cinta kasihnya dengan Mas To.
Kursi yang mencatat seluruh kenangan antara dirinya dan To. Mas To Tak meninggalkan warisan apapun kecuali kursi yang dibeli To, saat bekerja mati-matian mengayuh becak.
Setelah becak dilarang beroperasi, becak dijual untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Mas To jadi pengangguran, gantian Ninih yang bekerja sebagai buruh cuci di rumah kos-kosan mahasiswa.
Hidup mereka serba kekurangan. Makan sekali sehari kadang hanya dengan taburan garam yang diminta dari tetangga. Anehnya tubuh Ninih tak bertambah kurus malah terus membesar seperti balon berbeda dengan Limpto yang kurus kering.
Tak ada anak yang terlahir dari rahim Ninih dan Limpto pun tak pernah mempermasalahkannya. Tetap mencintai Ninih sama seperti saat pacaran hingga meregang nyawanya.
Ninih masih ingat hari terakhir Mas To masih bersamanya sebelum kepergiannya di hari nahas yang menyisakan segala kepedihan buat Ninih.
“Yang, aku pergi dulu ya? Sebentar, ke rumah Pak Sumanta. Hanya membetulkan genteng yang bocor.”
“Iya mas, hati-hati.”
Sesaat mereka berpelukan. Pelukan terakhir yang bisa dinikmati Ninih.
Walaupun usia pernikahan telah lebih dari tiga puluh tahun, kemesraan mereka masih saja seperti orang yang kasmaran. Ninih memang menua dan tak cantik seperti saat muda dulu, tapi Mas To selalu memujinya dengan seluruh benda yang indah, menurut pandangannya.
Rayuan Mas To lah yang membuat hati Ninih bergetar dan menetapkan pilihan padanya. Padahal dulu Ninih adalah kembang desa. Banyak pemuda yang hendak melamarnya, dari keluarga orang-orang terpandang. Selain kaya wajah mereka juga tampan.
Mas To?
Perawakannya sedang saja. Sedikit lebih tinggi dari Ninih. Wajahnya juga tak ada yang istimewa. Hanya rambut hitamnya dibiarkan menjuntai melewati pundak. Kulitnya agak legam karena sering terpapar sinar matahari. Begitulah nasib seorang buruh tani.
“Ayo, kemarilah rembulanku sayang, mendekatlah! Biarkan aku merasakan hangat tubuh purnamamu,” suara Limpto penuh cinta menebarkan rayuan mautnya pada Ninih sang primadona.
Ninih tak bisa tahan, bila mendengar kata-kata ajaib yang dilontarkan Mas To. Rasa hatinya melambung tinggi.
“Untunglah kau bukan mawar berduri, sayang. Harum mawar tubuhmu tak membuat jiwaku terluka.” Limpto menggenggam Ninih sepenuh rasa. Dua sejoli dalam cinta yang membara.
Beradu pandang saat malam pertama, malam yang tak begitu indah buat mereka karena gaduh yang ditimbulkan oleh seorang pemuda sakit hati disebabkan Ninih lebih memilih Limpto.
Gegara adu mulut yang berujung adu jotos di malam perkawinan mereka. Limpto terpaksa meringkuk dua hari di balai desa.
Dua hari itu pula Ninih menerima beberapa puisi cinta bertaburkan metafora yang menggetarkan sukma. Dititipkan Mas To pada saudara perempuannya yang rajin mengurus keperluan Limpto selama ditahan.
Sementara waktu Ninih tak diperkenankan keluar rumah karena dianggap berbahaya bagi keselamatan.
Terasing Diriku
Cinta. Aku terasing dan terluka
dan namamu pengurai dukaku,
kutitipkan semburat senja nan jingga
sebelum malam menelannya buta
kutitipkan lukisan lembayung cinta
pada warna senja seindah senyummu
bersabarlah duhai melati putihku
nantikan aku di dasar jiwamu
Balai Desa, Agustus ’84
Ninih membacanya berulangkali dan kemudian menyimpannya dengan apik.
Meski baru saja menikah, kejadian perkelahian menyebabkan Ninih dan Limpto harus pindah ke kota. Mengayuh becak adalah pekerjaan barunya.
Puisi-puisi suaminya telah terkumpul mencapai lebih dari lima ribu tulisan. Ada yang diberi judul ada juga hanya berupa kumpulan kalimat yang tertulis di kertas lusuh.
Malam Pengantin
nafasku nafasmu menyatu
nafasku nafasmu memburu
nafasku nafasmu menderu
gairah cinta menggelora
rumah kita, 17 Agustus ’84
Tulisan singkat di atas kertas bekas pembungkus bawang, saat baru menikah seminggu menjelang, Ninih baca berulang-ulang. Bulu tengkuknya meremang. Mas To baru saja pergi sebentar mengayuh becak, kerinduan Ninih padanya sudah memuncak.
Bila pun letih sepulang bekerja, Mas To selalu bersikap manis. Meminta Ninih mendekat, membelai-belai rambut Ninih dan mulai bersenandung. Secangkir kopi hangat menemani kemesraan mereka.
Keringat Mas To menguar tajam tercium di hidung Ninih. Namun bau keringat itulah yang membuat ia makin merindukan Mas To saat jauh darinya.
Saat benar-benar letih, Mas To membaringkan tubuhnya dipangkuan Ninih dan menggenggam tangannya lalu mengecup mesra sebelum tertidur pulas.
Bertahun-tahun lamanya, melakukan hal yang sama. Tak pernah ada pertengkaran serius. Dalam kesulitan hidup seperti apapun bagi Ninih adalah hal yang ringan saja. Asal Mas To mengucapkan mantera cinta. Maka perasaan Ninih selalu melambung ke angkasa.
“Kemari, kemarilah sayang!” Suara khas Limpto memanggil istrinya.
“Mendekat, mendekatlah gelombang!” seru Limpto sembari melambaikan tangannya.
“Terjang aku dengan riakmu. Kunantikan kau membadai malam ini,” bisikan lembut Limpto menggetarkan seluruh jiwa Ninih. Tubuhnya turut bergetar menahan gejolak yang membuatnya teramat hidup.
Ninih lama sekali menatap tumpukan kertas dan buku-buku tulis yang berisi puisi Mas To. Ia merasa sayang harus menyimpannya hingga lapuk dimakan usia.
Satu-satunya jalan agar berguna, Ninih berikan pada keponakannya yang bekerja dipercetakan. Alyandzo akan menikah bulan ini. Anggap saja sebagai hadiah perkawinan untuk mereka dari janda tak berpunya.
Tepat setahun setelah tulisan diberikan, Alyandzo datang berkunjung ke rumah Ninih yang sangat sederhana. Alyandzo datang dengan istri dan bayi laki-laki mungil yang sangat tampan.
Mereka datang dengan mobil pribadi yang mentereng. Berwarna keemasan, double cabin, Navara terbaru.
Ninih menyambut bahagia. Alyandzo mengabarkan padanya bahwa bayi laki-laki itu diberi nama sama dengan suaminya, Limpto Van Al. Dan Mobil baru yang mereka bawa adalah milik Ninih hasil dari royalti penjualan buku puisi yang ditulis Limpto.
Mereka meminta ijin pada Ninih untuk tinggal bersama di rumah baru Ninih. Yang dekat dengan tempat Alyandzo bekerja.
Dewi Surgaku
kepada kekasih, Wahai Kekasih
kepada cinta oh Pemilik Cinta
berikan bahagia untuknya
sang dewiku di surga
di sana. Aku menantikannya
Rumah Kita, 3 November ’14
Tulisan terakhir yang masih di simpan Ninih, terlipat rapi dibalik kutangnya.
Benda lain yang dibawanya hanyalah kursi kusam, saksi dari kisah cinta dua anak manusia.
Selesai
Bandung, 7 Januari 2019